Okeh Dah,,,Langsung aja ke Bahan Pokokdan Pangan,,, eh,,,Pokok Permasalahan
Okeh,,,Okeh,,, sesuai Judul di Atas,,,,,,
"Wanita Tua Dilarang Masuk Surga!! Weeewww"
Yang Mengatakan Adalah orang Terbaik dan
Orang No 1 yang sangat berpengaruh Bagi Kehidupan Dunia,,,
Wah,,,wah,,,,kasian dong yang udah tua gak bisa masuk surga,,,,
Eits,,,,Eitsss,,,
Sabar dulu,,,,,,,,,
Baca Artikel Dibawah ini ya,,,,
Lihat Artikel :
Di lain kesempatan, seorang wanita tua datang kepada Nabi Muhammad SAW minta didoakan masuk surga.
"Belum tahukah Ibu bahwa surga tertutup bagi wanita-wanita tua?" kata Nabi menggoda dalam canda.
Mendengar sabda Nabi Muhammad itu, kontan si nenek meraung-raung, menangis.
Nabi pun tersenyum, katanya, "Tenang,tenang. belum pernahkah anda membaca
firman Allah: 'Kami jadikan perempuan -perempuan surga itu menjadi
gadis-gadis perawan yang penuh gairah cinta dan sebaya?" (QS AL-Waqiah
(56):35-37).
Mendengar sabda itu, barulah si nenek tertawa gembira.
Dikutip dari buku: Canda Nabi dan Tawa Sufi, A Mustofa Bisri, Penerbit Hikmah, Jakarta, April 2004 [L1]
Yups,,,,,Semoga Artikel ini memberikan Pandangan kita tentang Tata Cara Bercanda yang baik,,,,
Okeh dah Sobat Sid
Klo misalkan ada yang Kurang berkenan,,,
Abang Sid Minta Maaf ya
Ayo Lihat Artikel yang lainnya ya
jangan Lupa Like FB kami ya
Sampai jumpa di Artikel Selanjutnya ^_^
Hoi,,,Hoi,,,Sobat Sid,,,, Jumpa lagi dengan
Abang Sid yang Keren Puoolll,,,,
Hohohohohoho
Ciat,,,Ciat,,,,
Okeh Dah,,,Langsung aja ke Bahan Pokokdan Pangan,,, eh,,,Pokok Permasalahan
Okeh,,,Okeh,,, sesuai Judul di Atas,,,,,,
"Wanita Tua Dilarang Masuk Surga!! Weeewww"
Yang Mengatakan Adalah orang Terbaik dan
Orang No 1 yang sangat berpengaruh Bagi Kehidupan Dunia,,,
Wah,,,wah,,,,kasian dong yang udah tua gak bisa masuk surga,,,,
Eits,,,,Eitsss,,,
Sabar dulu,,,,,,,,,
Baca Artikel Dibawah ini ya,,,,
Lihat Artikel :
Di lain kesempatan, seorang wanita tua datang kepada Nabi Muhammad SAW minta didoakan masuk surga.
"Belum tahukah Ibu bahwa surga tertutup bagi wanita-wanita tua?" kata Nabi menggoda dalam canda.
Mendengar sabda Nabi Muhammad itu, kontan si nenek meraung-raung, menangis.
Nabi pun tersenyum, katanya, "Tenang,tenang. belum pernahkah anda membaca
firman Allah: 'Kami jadikan perempuan -perempuan surga itu menjadi
gadis-gadis perawan yang penuh gairah cinta dan sebaya?" (QS AL-Waqiah
(56):35-37).
Mendengar sabda itu, barulah si nenek tertawa gembira.
Dikutip dari buku: Canda Nabi dan Tawa Sufi, A Mustofa Bisri, Penerbit Hikmah, Jakarta, April 2004 [L1]
Yups,,,,,Semoga Artikel ini memberikan Pandangan kita tentang Tata Cara Bercanda yang baik,,,,
Okeh dah Sobat Sid
Klo misalkan ada yang Kurang berkenan,,,
Abang Sid Minta Maaf ya
Ayo Lihat Artikel yang lainnya ya
Hanya untuk belajar dan Membagikan Artikel dibawah ini,,,
Jihahahahahahaha,,,,
Okeh dah,,,, ini dia ilmu dasar yang hampir terlupa oleh sebagian banyak
Manusia diberbagai Belahan duren,,,eh,,,belahan Dunia,,,,
Langsung Baca Sob
Dalam mencapai kesempurnaan wudu, Rasulullah SAW telah memberikan contoh
yang selayaknya kita ikuti, sebagaimana kutipan hadits berikut:
Selesai salat Subuh, Rasulullah SAW bertanya kepada
Bilal: "Wahai Bilal! Ceritakan kepadaku tentang perbuatan yang paling
bermanfaat yang telah kamu lakukan setelah memeluk Islam. Karena semalam aku mendengar suara langkah sandalmu di depanku dalam surga".
Bilal berkata: "Aku tidak pernah melakukan suatu amalan yang paling
bermanfaat setelah memeluk Islam selain aku selalu berwudu dengan
sempurna pada setiap waktu malam dan siang kemudian melakukan salat
sunat dengan wuduku itu sebanyak yang Allah kehendaki". (H.R. Abu
Hurairah ra).
Berikut ini adalah cara menyempurnakan wudu, yang mana termasuk hal-hal yang disunnahkan:
Mendahulukan bagian tubuh yang sebelah kanan
Mengulagi masing-masing anggota wudu sebanyak 3 (tiga) kali
Tidak berbicara
Menghadap kiblat
Membaca basmalah (dalam hati atau melafadzkannya)
Berniat untuk wudu, dan melafadzkan:
"Nawaitul wudluua liraf'il hadatsil ashghari
fardlallillaahi ta'aalaa" artinya : "Aku niat berwudlu' untuk
menghilangkan hadats kecil fardu karena Allah."
Membasuh telapak tangan sampai pergelangan
Menggosok gigi (bersiwak)
Berkumur
Membersihkan hidung (memasukkan air kehidung kemudian dibuang kembali)
Membasuh muka (dengan merata)
Membasuh tangan hingga sampai dengan kedua siku (dengan merata)
Mengusap sebagian kepala
Membasuh telinga kanan&kiri
Mengusap kedua telinga bagian luar dan dalam
Membasuh kaki hingga sampai dengan kedua mata kaki (dengan merata)
Membaca doa sesudah berwudu.
"Asyhadu an laa ilaaha illalaahu wa asyhadu anna
Muhammadan 'abduhu wa Rasuuluh, Allahummaj'alnii minat tawwaa biinaa
waj'alnii minal mutathahhiriin.", artinya: "Aku bersaksi bahwa Tidak ada
Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad itu
adalah hamba-Nya dan rasul-Nya. Ya allah, masukkanlah aku ke dalam
golongan orang-orang yang bertaubat, dan masukkanlah ke dalam golongan
orang-orang yang suci."
Kemudian dilanjutkan dengan salat sunnat wudu sebanyak 2 (dua) raka'at.
Bahwa Ia (Usman ra.) minta air lalu berwudu. Ia membasuh
kedua telapak tangannya tiga kali lalu berkumur dan mengeluarkan air
dari hidung. Kemudian membasuh wajahnya tiga kali, lantas membasuh
tangan kanannya sampai siku tiga kali, tangan kirinya juga begitu.
Setelah itu mengusap kepalanya, kemudian membasuh kaki kanannya sampai
mata kaki tiga kali, begitu juga kaki kirinya. Kemudian berkata: "Aku
pernah melihat Rasulullah saw. berwudu seperti wuduku ini, lalu beliau
bersabda: Barang siapa yang berwudu seperti cara wuduku ini, lalu salat
dua rakaat, di mana dalam dua rakaat itu ia tidak berbicara dengan
hatinya sendiri, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni." (H.R.
Usman bin Affan ra).
Tertib (berurutan)
Semoga Ilmu dasar ini Tetap Tak Terlupakan sampai di Akhirat
Oke dah Sobat Sid
Klo misalkan ada yang Kurang berkenan,,,
Abang Sid Minta Maaf ya
Ayo Lihat Artikel yang lainnya ya
jangan Lupa Like FB kami ya
Sampai jumpa di Artikel Selanjutnya
Hohoi,,,Sobat Sid,,,
Jauh2 Abang Sid Naik Bajaj
Hanya untuk belajar dan Membagikan Artikel dibawah ini,,,
Jihahahahahahaha,,,,
Okeh dah,,,, ini dia ilmu dasar yang hampir terlupa oleh sebagian banyak
Manusia diberbagai Belahan duren,,,eh,,,belahan Dunia,,,,
Langsung Baca Sob
Dalam mencapai kesempurnaan wudu, Rasulullah SAW telah memberikan contoh
yang selayaknya kita ikuti, sebagaimana kutipan hadits berikut:
Selesai salat Subuh, Rasulullah SAW bertanya kepada
Bilal: "Wahai Bilal! Ceritakan kepadaku tentang perbuatan yang paling
bermanfaat yang telah kamu lakukan setelah memeluk Islam. Karena semalam aku mendengar suara langkah sandalmu di depanku dalam surga".
Bilal berkata: "Aku tidak pernah melakukan suatu amalan yang paling
bermanfaat setelah memeluk Islam selain aku selalu berwudu dengan
sempurna pada setiap waktu malam dan siang kemudian melakukan salat
sunat dengan wuduku itu sebanyak yang Allah kehendaki". (H.R. Abu
Hurairah ra).
Berikut ini adalah cara menyempurnakan wudu, yang mana termasuk hal-hal yang disunnahkan:
Mendahulukan bagian tubuh yang sebelah kanan
Mengulagi masing-masing anggota wudu sebanyak 3 (tiga) kali
Tidak berbicara
Menghadap kiblat
Membaca basmalah (dalam hati atau melafadzkannya)
Berniat untuk wudu, dan melafadzkan:
"Nawaitul wudluua liraf'il hadatsil ashghari
fardlallillaahi ta'aalaa" artinya : "Aku niat berwudlu' untuk
menghilangkan hadats kecil fardu karena Allah."
Membasuh telapak tangan sampai pergelangan
Menggosok gigi (bersiwak)
Berkumur
Membersihkan hidung (memasukkan air kehidung kemudian dibuang kembali)
Membasuh muka (dengan merata)
Membasuh tangan hingga sampai dengan kedua siku (dengan merata)
Mengusap sebagian kepala
Membasuh telinga kanan&kiri
Mengusap kedua telinga bagian luar dan dalam
Membasuh kaki hingga sampai dengan kedua mata kaki (dengan merata)
Membaca doa sesudah berwudu.
"Asyhadu an laa ilaaha illalaahu wa asyhadu anna
Muhammadan 'abduhu wa Rasuuluh, Allahummaj'alnii minat tawwaa biinaa
waj'alnii minal mutathahhiriin.", artinya: "Aku bersaksi bahwa Tidak ada
Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad itu
adalah hamba-Nya dan rasul-Nya. Ya allah, masukkanlah aku ke dalam
golongan orang-orang yang bertaubat, dan masukkanlah ke dalam golongan
orang-orang yang suci."
Kemudian dilanjutkan dengan salat sunnat wudu sebanyak 2 (dua) raka'at.
Bahwa Ia (Usman ra.) minta air lalu berwudu. Ia membasuh
kedua telapak tangannya tiga kali lalu berkumur dan mengeluarkan air
dari hidung. Kemudian membasuh wajahnya tiga kali, lantas membasuh
tangan kanannya sampai siku tiga kali, tangan kirinya juga begitu.
Setelah itu mengusap kepalanya, kemudian membasuh kaki kanannya sampai
mata kaki tiga kali, begitu juga kaki kirinya. Kemudian berkata: "Aku
pernah melihat Rasulullah saw. berwudu seperti wuduku ini, lalu beliau
bersabda: Barang siapa yang berwudu seperti cara wuduku ini, lalu salat
dua rakaat, di mana dalam dua rakaat itu ia tidak berbicara dengan
hatinya sendiri, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni." (H.R.
Usman bin Affan ra).
Tertib (berurutan)
Semoga Ilmu dasar ini Tetap Tak Terlupakan sampai di Akhirat
Oke dah Sobat Sid
Klo misalkan ada yang Kurang berkenan,,,
Abang Sid Minta Maaf ya
Ayo Lihat Artikel yang lainnya ya
Hai,,,,,hai Sobat Sid,,,,
Abang Sid Kali ini Membagikan Sebuah
Curahan Seorang Laki2 akan Cintanya Pada Wanita
hohohoho
Okeh,,,,Cekidot aja dah,,,
Usianya
masih jauh dari setengah abad, namun tubuhnya kian tampak mengisut.
Dahi yang kadang berkerut, dan kantung kehitaman di bawah mata membuat
cahaya wajahnya meredup. Jelas, kecantikan masa lalunya perlahan pudar
diranggas keriput.
Keringat masih menetes dan membasahi daster berwarna pudar yang
dikenakannya, namun ia terlihat kembali sibuk membersihkan peralatan
dapur. Sebentar kemudian beralih mencuci
baju, membilas dan menjemur. Bagaikan manusia perkasa, ia seolah-olah
selalu bertenaga mengurus semuanya. Tak kenal lelah, hingga jarum jam
berdentang saat tengah malam tiba.
Sekejap aku pun merenung…
Ia menundukkan pandangan, menyembunyikan senyum ketika pertama kali
bertemu. Tak sepatah kata terucap, karena ayah bunda telah mengerti
makna diam bagi seorang dara yang dilamar jejaka. Sepekan menjelang,
kita pun disatukan dalam mitsaqan ghalizha. Sebuah ikatan pernikahan
yang begitu sederhana di mata manusia, namun begitu besar keutamaannya
di hadapan Sang Pemilik Cinta.
Saat itu, hanya seperangkat mukena dan mushaf sebagai mahar. Tampak
matanya berkaca-kaca, rasa haru menyeruak dari lubuk hatinya. Terlebih
saat kulantunkan untaian ayat tentang tuntunan keluarga sakinah,
mawaddah wa rahmah.
Tak ada intan permata atau harta berlimpah ruah. Tak ada pula kereta
kencana bertahta emas yang dihela banyak kuda. Istana yang ditempati
juga hanyalah sebentuk rumah kontrakan yang sangat sederhana. Dihiasi
beberapa helai kain batik usang, cukuplah sebagai tirai sutra penutup
jendela. Bantal kapuk pun bagaikan berisi bulu domba untuk kita
senantiasa bercengkrama.
Seiring waktu yang selalu berganti siang dan malam, perlahan raganya
tak lagi indah dan segar laksana kuntum bunga yang sedang merekah.
Lentik jari-jemari telah menjadi kapalan, semerbak harum mewangi lambat
laun berganti aroma aneka masakan.
Aku semakin masyuk merenung dan menerawang jauh…
Teringat kisah Asma’, putri Abu Bakar yang tak pernah sungkan
menyabit rumput, menanam benih di kebun hingga memelihara kuda sang
kekanda tercinta. Bahkan seorang Fatimah harus rela lecet telapak
tangannya karena letih menumbuk gandum dan mengerjakan urusan rumah
tangga. Tak ada dayang-dayang cantik nan jelita sebagai pelayan atau
khadimah, padahal mereka adalah putri-putri seorang khalifah dan
Rasulullah.
Aaah…
Kudengar dengkuran halus, tapi cukup mengembalikan jiwaku yang tadi sempat melayang jauh.
Tentu, ia yang terbaring dengan raut wajah letih itu bukan
Asma’ atau Fatimah. Namun, keikhlasan dan kesabarannya semoga menuai
pahala seperti layaknya mereka.
Ia pun bukan Cinderella atau istri seorang pangeran tampan nan
rupawan, putra maharaja yang memiliki istana megah dan indah. Seorang
pewaris sebuah kerajaan yang dengan kekayaannya sanggup menyediakan
dayang-dayang untuk senantiasa melayani atau meringankan beban
pekerjaan.
Ia hanyalah belahan jiwa dari seorang laki-laki biasa, yang harus
hidup membanting tulang dan memeras keringat untuk menghidupi
keluarganya. Semakin kutatap wajahnya dengan penuh luahan rasa
cinta dan kasih sayang. Lalu aku pun segera bangkit dari tempat duduk,
menghampirinya yang sedang pulas tertidur seraya berbisik penuh
kemesraan, “Maafkan, karena aku bukan pangeran.”
Source: buku “Sapa Cinta Dari Negeri Sakura”
Penulis : Abu Aufa
Penerbit : Pena Pundi Aksara-Jakarta. Shared By Catatan Catatan Islami
Semoga Artikel ini Bener2 Memberi Ispirasi Buat
Para Laki2 ya,,, Gitu cara Berpikir Laki2 yang bener2 Mencintai Wanita,, yah,,,salah satunya lah,,,,
Hahahaha,,, Okeh dah Sobat Sid
Klo misalkan ada yang Kurang berkenan,,,
Abang Sid Minta Maaf ya
Ayo Lihat Artikel yang lainnya ya
jangan Lupa Like FB kami ya
Sampai jumpa di Artikel Selanjutnya ^_^
Hai,,,,,hai Sobat Sid,,,,
Abang Sid Kali ini Membagikan Sebuah
Curahan Seorang Laki2 akan Cintanya Pada Wanita
hohohoho
Okeh,,,,Cekidot aja dah,,,
Usianya
masih jauh dari setengah abad, namun tubuhnya kian tampak mengisut.
Dahi yang kadang berkerut, dan kantung kehitaman di bawah mata membuat
cahaya wajahnya meredup. Jelas, kecantikan masa lalunya perlahan pudar
diranggas keriput.
Keringat masih menetes dan membasahi daster berwarna pudar yang
dikenakannya, namun ia terlihat kembali sibuk membersihkan peralatan
dapur. Sebentar kemudian beralih mencuci
baju, membilas dan menjemur. Bagaikan manusia perkasa, ia seolah-olah
selalu bertenaga mengurus semuanya. Tak kenal lelah, hingga jarum jam
berdentang saat tengah malam tiba.
Sekejap aku pun merenung…
Ia menundukkan pandangan, menyembunyikan senyum ketika pertama kali
bertemu. Tak sepatah kata terucap, karena ayah bunda telah mengerti
makna diam bagi seorang dara yang dilamar jejaka. Sepekan menjelang,
kita pun disatukan dalam mitsaqan ghalizha. Sebuah ikatan pernikahan
yang begitu sederhana di mata manusia, namun begitu besar keutamaannya
di hadapan Sang Pemilik Cinta.
Saat itu, hanya seperangkat mukena dan mushaf sebagai mahar. Tampak
matanya berkaca-kaca, rasa haru menyeruak dari lubuk hatinya. Terlebih
saat kulantunkan untaian ayat tentang tuntunan keluarga sakinah,
mawaddah wa rahmah.
Tak ada intan permata atau harta berlimpah ruah. Tak ada pula kereta
kencana bertahta emas yang dihela banyak kuda. Istana yang ditempati
juga hanyalah sebentuk rumah kontrakan yang sangat sederhana. Dihiasi
beberapa helai kain batik usang, cukuplah sebagai tirai sutra penutup
jendela. Bantal kapuk pun bagaikan berisi bulu domba untuk kita
senantiasa bercengkrama.
Seiring waktu yang selalu berganti siang dan malam, perlahan raganya
tak lagi indah dan segar laksana kuntum bunga yang sedang merekah.
Lentik jari-jemari telah menjadi kapalan, semerbak harum mewangi lambat
laun berganti aroma aneka masakan.
Aku semakin masyuk merenung dan menerawang jauh…
Teringat kisah Asma’, putri Abu Bakar yang tak pernah sungkan
menyabit rumput, menanam benih di kebun hingga memelihara kuda sang
kekanda tercinta. Bahkan seorang Fatimah harus rela lecet telapak
tangannya karena letih menumbuk gandum dan mengerjakan urusan rumah
tangga. Tak ada dayang-dayang cantik nan jelita sebagai pelayan atau
khadimah, padahal mereka adalah putri-putri seorang khalifah dan
Rasulullah.
Aaah…
Kudengar dengkuran halus, tapi cukup mengembalikan jiwaku yang tadi sempat melayang jauh.
Tentu, ia yang terbaring dengan raut wajah letih itu bukan
Asma’ atau Fatimah. Namun, keikhlasan dan kesabarannya semoga menuai
pahala seperti layaknya mereka.
Ia pun bukan Cinderella atau istri seorang pangeran tampan nan
rupawan, putra maharaja yang memiliki istana megah dan indah. Seorang
pewaris sebuah kerajaan yang dengan kekayaannya sanggup menyediakan
dayang-dayang untuk senantiasa melayani atau meringankan beban
pekerjaan.
Ia hanyalah belahan jiwa dari seorang laki-laki biasa, yang harus
hidup membanting tulang dan memeras keringat untuk menghidupi
keluarganya. Semakin kutatap wajahnya dengan penuh luahan rasa
cinta dan kasih sayang. Lalu aku pun segera bangkit dari tempat duduk,
menghampirinya yang sedang pulas tertidur seraya berbisik penuh
kemesraan, “Maafkan, karena aku bukan pangeran.”
Source: buku “Sapa Cinta Dari Negeri Sakura”
Penulis : Abu Aufa
Penerbit : Pena Pundi Aksara-Jakarta. Shared By Catatan Catatan Islami
Semoga Artikel ini Bener2 Memberi Ispirasi Buat
Para Laki2 ya,,, Gitu cara Berpikir Laki2 yang bener2 Mencintai Wanita,, yah,,,salah satunya lah,,,,
Hahahaha,,, Okeh dah Sobat Sid
Klo misalkan ada yang Kurang berkenan,,,
Abang Sid Minta Maaf ya
Ayo Lihat Artikel yang lainnya ya